Den, Memoria Kian Lian

Miyono baru sadar kalau  anggrek tidak ikut sepi pasarnya. Walaupun  tanaman hias sekarang baru jatuh, anggrek tetap saja ada permintaan. Yang lebih menyenangkan, harga jual anggrek lebih stabil.

Sejak anthurium tidak ada peminatnya, Bapak tiga anak ini beralih budidaya anggrek. Miyono yang sering dipanggi ‘Krisjon’ sangat cermat dalam merawat anggrek. Dengan  lahan yang  tidak begitu luas, pemanfaatan  lahan  pekarangan dimaksimalkan untuk bididaya anggrek,  penempatanyapun disesuaikan dengan agroklimatnya. Hanya ada 2 macam yang di tanam, Phalaenopsis dan Dendrobium. ‘Kedua jenis ini sangat cocok dengan kondisi halaman rumah saya, lihat saja … hampir tidak ada anggrek phalaenopsis yang busuk, semuanya vigor dan cepat berbunga ‘ kata Miyono selaku  Ketua Kelompok Tani Anggrek ‘Lestarinda’.

Kelompok tani anggrek Lestarinda dibentuk 3 tahun lalu dengan 10 anggota. Meskipun sedikit anggotanya tetapi produktifitasnya boleh dibanggakan. Hampir 2000 benih bisa diproduksi setiap bulanya. Bayangkan kalau satu benih dijual lima ribu rupiah. Sepuluh juta rupiah pendapatan kelompok tani setiap bulanya, padahal rata rata mereka menggunakan lahan pekarangan. Menurutnya dengan penghasilan 500 ribu /meter  pertahun dilahan pekarangan sudah sangat membantu perekonomian keluarga.

Kelompok Tani Lestarinda beralamat di Kelurahan Jatisari Kecamatan Mijen Kota Semarang. 

Pemanfaatan lahan pekarangan